Rabu, 13 Mei 2015

Tugas Kepariwisataan Wawancara Dengan Turis Asing

Pada hari minggu, 10 Mei 2015, saya dan teman-teman yang lain (Eka Desmawati, Annisa, HanifahTrya dan Ajidwi Saputra) bersama-sama menuju ke kawasan museum Kota Tua, Jakarta Barat, untuk mengerjakan tugas softskill Kepariwisataan, yaitu berbicara(mewawancarai) turis asing.

Kami sempat ditolak beberapa turis asing untuk diwawancarai, namun untungnya tidak lama kami menemukan sepasang turis asing yang bersedia untuk kami minta waktunya untuk berbicara dengan kami. Berikut ini percakapan kami dengan turis asing tersebut.

1. What is your names? and where do you come from?
    Woman : My name is Marina ;  Man : My name is Kristoff, we are from French.

2. Is it your first time in Jakarta?
    Yes it is, this is our first time visiting here, we came here for business trip.

3. What do you think about tourism place in here, like the museums?
    Oh, we don't know yet, actually we've just arrived about half an hour ago, so we don't know yet about that.

4. Did you ever eat the food in here? Do you the name of the food?
    Yeah, it's a bit spicy but delicious. Hm... unfortunately, I dont know.

5. Can you speak "bahasa"?
    Oh no, not at all. (Dan lalu Aji meminta Mrs. Marina untuk berbicara 3 kata dalam bahasa Indonesia yaitu "Halo Universitas Gunadarma."

Ok, that's all our question can we take a picture one by one with you for our assignmet please?
Oh sure, hm... what's the subject of your assignment?
It's Tourism.

Demikian percakapan singkat antara kami dengan turis asing dari Perancis, dan sebenarnya semua pertanyaan yang kami ajukan hanya dijawab oleh Mrs. Marina.

Berikut beberapa foto yang diambil saya saat berbicara dengan mereka dan setelahnya.





Sabtu, 18 April 2015

Tugas Softskill Kepariwisataan Laporan Kunjungan Tempat Wisata


Nama : Laila Fitria
Kelas : 1SA07
NPM : 15614962


Tugas Softskill Kepariwisataan kali ini, saya dan teman-teman lainnya (Andriani N, Chinia R, Cassandra, Finailis S, Vivi Yanti dan Shindy A) bersama-sama mengunjungi museum yang berada di Kota Tua Jakarta. Pada hari Jum'at tanggal 3 April 2015 kami bertujuh berangkat dari Stasiun Bekasi menuju ke Stasiun Jakarta Kota.

Tiket Commuter Line kami bertujuh

       
Stasiun Jakarta Kota







Lalu, pada pukul setengah dua siang kami telah sampai di Stasiun Jakarta Kota dan melihat-lihat beberapa aksesoris yang dijual disana serta kami makan siang dan sholat dhuhur disana. Setelah itu saya menyempatkan untuk melihat gambar yang bisa dibilang peta yang menunjukkan beberapa museum yang terdapat di kota tua.

Peta Penujuk Ini Terletak Disebelah Kanan Museum Wayang

Saat kami bertujuh akan menuju ke Museum Sejarah Jakarta, ternyata museum sedang tutup saat itu. Mungkin saat itu bertepatan dengan tanggal merah (hari libur nasional). Maka kamipun tidak dapat memasuki museum dan mengetahui lebih jauh mengenai museum sejarah Jakarta dan apa saja yang terdapat disana. Kamipun disana hanya berfoto dengan badut-badut yang berada disekitar sana dan sempat berfoto sama pula, sebelum akhirnya yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka ke Monas (Monumen Nasional) sementara saya memilih pulang duluan untuk mampir ke rumah salah seorang sanak saudara saya di kawasan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Berikut adalah foto saya dan teman-teman saat di depan Museum Sejarah Jakarta.
Saya Didepan Museum Sejarah Jakarta
Saya Yang Agak Ketakutan Berfoto Dengan Sosok Tersebut.


Kami Bertujuh (Saya, Shindy, Yohana, Andri, Vivi, Chinnia dan Cassandra) Disekitar Museum Sejarah Jakarta

Karena Museum Sejarah Jakarta sedang tutup saat itu, maka laporan kepariwisataan mengenai kunjungan saya di Museum Sejarah Jakarta jadi tidak lengkap dan sedikit. Berikut saya akan membahas mengenai Museum Sejarah Jakarta.
SEJARAH GEDUNG
Museum Sejarah Jakarta pada mulanya digunakan sebagai gedung Balaikota (Stadhuis). Gedung ini merupakan gedung Balaikota kedua yang dibangun pada masa pemerintahan VOC di Batavia.

Pada tanggal 27 April 1626, Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) memutuskan untuk menbangun gedung balaikota yang baru ini kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan selesai direnovasi pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.
Selain sebagai Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja (College van Scheppen). Pada tahun 1925-1942 gedung ini juga dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 dipakai sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974.

SEJARAH MUSEUM
Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat, adalah sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Maka pada tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942). Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Museum Oud Batavia ini menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI. Koleksi tersebut terdiri dari:
  1. Mebel
  2. Perabot rumah tangga
  3. Senjata
  4. Keramik
  5. Peta
  6. Buku-buku
Museum Oud Batavia ini adalah sebuah lembaga swasta yang berada dibawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 yang berjasa juga dalam mendirikan Museum Nasional.
Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan pada tahun 1968 Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi dari Museum Nasional.
Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, sejak tahun 1999 Museum Sejarah Jakarta bertekad untuk menjadikan Museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat dan memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun bangsa asing, anak-anak maupun orang dewasa bahkan untuk penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi.
Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih kreatif. Selain itu, sebagai pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat menarik perhatian pengunjung untuk mengetahui sejarah kota Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Sumber: Brosur "Pameran Bersama Museum: Jakarta Tempo Doeloe" (Museum Sejarah Jakarta)


Alamat:
Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1
Jakarta 11110
Telp. 021 692 9101
Fax. 021 690 2387

Laman: http://www.budayajakarta.com
Jam Kunjungan:
Selasa-Minggu 09.00-15.00

Tiket:
Dewasa Rp 2.000,00
Mahasiswa Rp 1.000,00
Anak-anak Rp 600,00

Sabtu, 17 Januari 2015

Seminar Komik Universitas Guadarma Kalimalang (Pembicara Sweta Kartika)

Hai semua, apa kabar? meski saya kurang yakin bakal ada yang mampir dan baca blog saya, anyway... welcome to my blog. Nah... setelah sekian lama saya enggak mengepost sesuatu di blog saya, akhirnya malam ini saya bisa memeberi satu masukan cerita di blog ini.


Nah, jadi ceritanya hari ini (17 Januari 2015), bertempat di ruang sinema lantai 6 Universitas Gunadarma Kampus J1, saya dan beberapa mahasiswa/i Gunadarma dan juga peserta seminar yang lainnya mengikuti seminar komik yang diadakan oleh BEM FIKTI Universitas Gunadarma. Pembicara untuk seminar komik ini adalah Sweta Kartika. Bagi saya yang sudah hampir setahun mengikuti update cerita komiknya di jejaring sosial Facebook, tentu saja dia tidak asing lagi bagi saya.


Ini adalah foto saya dengan Sweta Kartika, Sweta itu laki-laki ya, yang pakai jaket hitam.


Sweta kartika adalah seorang comic artist dan illustrator. Jadi dia merupakan lulusan DKV (Desain Komunikasi Visual) entah di Universitas mana, karena saya juga belum tahu. hihi. jadi sedikit mengutip apa yang dikatakan Sweta tentang jurusan DKV, tujuan dari DKV sendiri ini adalah untuk menyampaikan komunikasi secara visual. Jadi, apa yang ada di pikiran kita seperti opini, jejak pendapat atau yang lainnya dikomunikasikan melalui visual (gambar) begitulah kurang lebihnya. 

Jadi, seminar yang semula dijadwalkan dimulai pukul 9 pagi, akhirnya dimulai pukul 10 pagi. Dan, ini dia foto Sweta Kartika saat menceritakan pengalaman dan apa yang dia pikirkan mengenai bidang yang ia tekuni. Oh God, he is so amazing with that kind of thoughts !!


Nah, ternyata Sweta telah berkarya dalam beberapa buku dan komik yang berjumlah 4. Selain "Grey & Jingga" ternyata sebelumnya dia juga sempat diminta tolong oleh (saya lupa siapa namanya) yaitu untuk mendesain gambar di kartu tarot yang berjumlah 78 kartu, dan kalau tidak salah orang tersebut meminta tolong karena dia terinspirasi oleh salah satu karya Sweta yang berjudul "The Art of Tarot".

Selain itu ada juga karya-karya lainnya yang saya baru tahu, yaitu "Dream Catchers" dan beberapa komik lainnya yang saya sulit mengingat judulnya. dan dia juga menampilkan beberapa karya yang ia dan beberapa temannya telah buat.

Setelah itu, seminar memasuki sesi penyampaian materi. Pada sesi ini, sweta mula-mula memberi pertanyaan berupa gambar(simbol) beberapa anime dari Jepang yang sudah terkenal. Kami perserta seminar, diminta untuk menebak dengan cepat, apa yang mereka lihat di logo yang dihitamkan itu. 

Lalu setelah itu, iapun menjelaskan mengenai bagaimana jepang bisa tetap bertahan di posisi puncak, dan juga ia menjelaskan mengenai Korea Selatan yang juga ingin untuk menandingi Jepang(dalam hal ini adalah ekspor barang elektronik) dan disimulasikanlah penjelasan tadi ke materi yang dia sampaikan.

Untuk membuat suatu karya ternyata diperlukan beberapa tahap untuk menyelesaikannya. kata Sweta, banyak orang yang jika karyanya sudah rampung/selesai mereka merasa sudah puas. Padahal sebenarnya, hal itu baru 50 % dari semua hal yang dia lakukan agar karyanya bisa sampai ke pembaca. 

Dalam berkarya, berikut beberapa tahap yang harus di lalui itu : Branding, Content dan Planning. Dari beberapa hal itu, disebutkan pula bahwa kita juga harus memeperhatikan target market yang ingin kita tuju. Seperti, misalnya komik Sinchan karya Yoshito Usui, Target yang dia tuju adalah pembaca usia anak-anak, maka komikus komik Sinchan melakukan riset pada gambar yang dibuat oleh anak TK di Jepang sebagai referensi komik yang ia buat. Dan itu tepat sasaran.

Dari penjelasannya itu, meski sempat mengantuk sebentar saat seminar, saya akhirnya berpikir, bagaimana bila misalnya seseorang ingin berkarya dan ia tidak memikirkan atau menargetkan siapa target market yang ia harap sebagai pembacanya, apakah hal ini masih mungkin untuk dilakukan? maka pada saat sesi tanya jawabpun saya menanyakan hal itu pada Sweta, (saya mendapat suvenir berupa Pin yang bergambar tokoh Jingga). Setelah mendapat jawabanya saya akhirnya mengerti.

Pin yang saya dapat dari sesi tanya jawab. Tokoh Jingga dalam Komik Grey & Jingga.


Dan.. seminar hari ini pun berakhir pukul 12.15. Akhirnya, setelah beberapa penyampaian dari BEM FIKTI Gunadarma untuk membuang sampah masing-masing, dan juga promosi produk-produk karya Sweta Kartika kamipun meninggalkan ruang sinema (J167).. 

Dan, kesan yang saya dapat dari seminar ini, entah karya apapun yang kita buat (komik, novel, karikatur, dsb) kita bebas menyampaikan apapun yang ada dipikiran kita, melihat visi yang diperkirakan sama dengan calon pembaca, dan satu hal yang saya ingat dari perkataan Sweta Kartika "Anda tidak berhak menilai karya Anda" dan "gunakan sesuatu yang paling asli dari diri Anda pada karya Anda" serta satu lagi pesan yang Sweta dapatkan dari ibunya "Jadilah ikan yang besar di kolam yang kecil" Maksudnya, kita diharapkan ahli di satu bidang, meskipun bidang itu mungkin kecil.

Oke, sekian postingan dari saya ini, meski blog saya masih sepi, semoga suatu saat saya menemukan cara bagaimana meramaikan blog saya ini. Wassalamu'alaikum.. Selamat malam semua :).